Kamis, 10 Mei 2012

PENERAPAN HUKUM-HUKUM PSIKOLOGI GESTALT PADA KARYA FOTOGRAFI


Penerapan Hukum-Hukum Teori Gestalt pada Karya Fotografi

Abstrak
Dalam makalah ini penulis ingin menunjukkan andil hukum-hukum dalam psikologi  Gestalt dalam proses kreatif pembuatan sebuah karya fotografi. Hukum-hukum yang ada akan sangat membantu dalam proses pembuatan sebuah karya agar karya tersebut tepat sasaran dan terlihat unik.
Hukum-hukum Psikologi Gestalt akan saya jadikan dasar dalam pembuatan karya-karya penulis. Setiap karya yang penulis buat adalah representasi dari hukum-hukum tersebut yang penulis aplikasikan secara kreatif dengan menggunakan teknik-teknik pencahayaan dan objek yang beragam.
Karya yang akan penulis sajikan akan mengajak para penikmat untuk berpikir tentang maksud dari konsep yang ingin saya sampaikan bukan hanya sekedar menikmati visual yang ada.

Kata Kunci
Penerapan, Hukum Teori Gestalt, Fotografi

A.    Pendahuluan
1.      Latar Belakang
Manusia merupakan makhluk yang tidak bisa puas dengan kebutuhan akan informasi. Seiring berjalanya waktu makin banyak penemuan-penemuan yang terkuak dan hal ini berbanding lurus dengan kebutuhan informasi yang ingin diperoleh manusia, karena dalam persepsi kehidupan, semakin banyak informasi yang didapat, maka semakin mudah pula manusia memenuhi kebutuhannya. Informasi bisa didapat dari indra yang ada pada manusia yang terdiri dari indera penglihatan, perasa (pengecap), peraba, penciuman,dan pendengaran. Indera penglihatan yang dalam hal ini diwakili oleh mata, memegang peranan penting dalam proses tumbuhnya manusia dan peradaban. Indera penglihatanlah yang membuat manusia bisa melihat, mempersepsikan dan meniru kinerja alam sehingga manusia bisa membuat hidupnya lebih nyaman.
Kebudayaan manusia yang terus berkembang disebabkan oleh ilmu pengetahuan yang terus berkembang pula, informasi dari penglihatan memegang peran penting disini sebagai media penyampai informasi dari seorang ke orang yang lain atau sebuah kelompok masyarakat. Informasi itu terdiri dari gambar-gambar yang diam atau bergerak. Saya akan menguraikan bagaimana proses sebuah imaji bisa ditangkap dan kemudian di olah oleh otak dan pada akhirnya memunculkan persepsi terhadap sesuatu. Saya mengambil dasar dari ilmu psikologi Gestalt yang ditemukan oleh Max Wertheimer (1880-1943) untuk membuat sebuah karya fotografi.
Dunia fotografi merupakan salah satu media penyampai informasi untuk mata. Penggunaan hukum-hukum dari teori Gestalt ini bisa menjadikan sebuah karya menjadi produk yang muncul dari sebuah proses kreativitas. Seorang fotografer idealnya dapat menciptakan sebuah kesatuan visual yang mudah dipahami oleh penglihat. Pemahaman terhadap prinsip persepsi visual adalah kunci untuk memahami tendensi mata dalam melihat sebuah pola visual. Penerapan prinsip persepsi visual dari teori Gestalt menjadi metode persepsi visual yang paling akurat, teruji, dan dapat dikatakan masih relevan sampai saat ini.    

2.      Rumusan Masalah
a.       Apakah psikologi Gestalt?
1)      Apakah definisi psikologi Gestalt?
a)      Bagaimanakah proses otak menangkap dan mempersepsikan gambar visual?
b)      Apa sajakah hukum-hukum psikologi Gestalt?
2)      Bagaimana sejarah dan perkembangan psikologi Gestalt?
b.      Bagaimanakah menerapkan psikologi Gestalt dalam karya       fotografi.
1)      Bagaimana cara menciptakan karya dengan dasar psikologi Gestalt.
3.      Tujuan Penulisan Makalah
a.       Untuk menjelaskan psikologi Gestalt.
1)      Untuk menjelaskan definisi psikologi Gestalt.
a)      Untuk menjelaskan proses otak menangkap dan mempersepsikan gambar visual.
b)      Untuk menjelaskan jenis hukum-hukum psikologi Gestalt.
2)      Untuk menjelaskan sejarah dan perkembangan psikologi Gestalt.
b.      Untuk menjelaskan penerapan psikologi Gestalt dalam karya fotografi.
1)      Untuk menjelaskan cara menciptakan karya dengan dasar psikologi Gestalt.

B.     Penerapan
1.      Pengertian Psikologi Gestalt
Psikologi Gestalt berawal dari pengajuan kertas kerja Max Wertheimer dari Jerman (1912), sedangkan di Amerika Serikat J.B. Watson juga mengemukakan karyanya yang berjudul ‘Psychology as the behaviorist views it’ (1913). Max Wertheimer (1880-1943) merupakan pendiri Gestalt, ia bekerja sama dengan dua temannya Kurt Koffka (1886-1941) dan Wolfgang Kohler  (1887-1967), yang keduanya dipandang sebagai the cofounder. Ketiga tokoh ini mempunyai pemikiran yang sama dan searah( Bimo Walgito, Pengantar Psikologi Umum,Penerbit Andi, 2006, h.74)
Kedua aliran ini (behaviorisme dan gestalt) sering disebut sebagai aliran kontemporer yang mengkritik aliran Orthodoks, tetapi ada perbedaan diantara kedua aliran tersebut. Psikologi Gestalt masih mengakui adanya unsur kesadaran itu sendiri dalam bentuk yang utuh (totalitas, tidak terbagi dalam elemen-elemen), sedangkan behaviorisme tidak sependapat dengan diikutsertakan kesadaran sebagai data dalam psikologi. Behaviorisme lebih menekankan tingkah laku dalam bentuknya yang nyata sebagai data dalam psikologi.
Psikologi Gestalt merupakan salah satu aliran psikologi yang mempelajari suatu gejala sebagai suatu keseluruhan atau totalitas, data-data dalam teori psikologi Gestalt disebut sebagai fenomena (gejala). Fenomena adalah data yang paling dasar dalam psikologi Gestalt. Dalam hal ini psikologi Gestalt sependapat dengan filsafat fenomonologi yang mengatakan bahwa suatu pengalaman harus dilihat secara netral. Dalam suatu fenomena terdapat dua unsur, yaitu objek dan arti. Objek merupakan sesuatu yang dapat dideskripsikan, setelah tertangkap oleh indera, objek tersebut menjadi suatu informasi dan sekaligus kita telah memberikan arti pada objek itu. Gestalt adalah fenomena perseptual dipelajari secara langsung dan secara  bulat, tidak dibagi-bagi atau dianalisis lebih lanjut( Bimo Walgito, Pengantar Psikologi Umum,Penerbit Andi, 2006, h.75)
Istilah ‘Gestalt’ sendiri merupakan istilah bahasa Jerman yang sukar dicari terjemahannya dalam bahasa-bahasa lain. Arti Gestalt bisa bermacam-macam sekali, yaitu ‘form’, ‘shape’ (dalam bahasa Inggris) atau bentuk, hal, peristiwa, hakikat, esensi, totalitas. Terjemahannya dalam bahasa Inggrispun bermacam-macam antara lain ‘shape psychology’, ‘configurationism’, ‘whole psychology’ dan sebagainya. Karena adanya kesimpangsiuran dalam penerjemahannya, akhirnya para sarjana di seluruh dunia sepakat untuk menggunakan istilah ‘Gestalt’ tanpa menerjemahkan ke dalam bahasa lain(Sarlito Wirawan Sarwono, Berkenalan dengan Aliran-aliran dan Tokoh-tokoh Psikologi, PT Bulan Bintang, Jakarta, 1986, h.127).
2.      Proses Fisiologo Melihat
Cahaya memantul dari suatu benda. Pantulan ini difokuskan oleh kornea dan lensa kepada 126 juta reseptor di retina. Sementara sistem visual mencari dan bertindak atas informasi dari lingkungan ini, masukan dari retina menyebabkan penyesuaian-penyesuaian pada mata. Reseptor di retina mengubah dan menyusut informasi dari cahaya menjadi impuls listrik, yang kemudian diteruskan oleh sistem saraf optik dari masing-masing mata ke talamus visual otak dan ke korteks visual yang merupakan tempat terjadinya penglihatan yang sebenarnya. Di talamus, pesan dipisah menjadi dua jalur pemrosesan.
Ø  Jalur pertama: jalur talamo-amigdala mengirim sinyal dari talamus langsung ke amigdala yang merupakan pusat emosi dari otak. Di sini bentuk situasi yang telah dipersepsi langsung dicocokkan dengan bentuk-bentuk lain yang tersimpan di ingatan emosi dan menghasilkan tanggapan emosi yang akan menjadi bingkai tindakan, sesuai dengan pengalaman masa lalu (negatif/positif). Meskipun tidak sadar, hasilnya kita rasakan berupa perasaan atau sikap yang membentuk pikiran kognitif, membelokkannya ke arah tanggapan tertentu.
Ø  Jalur kedua: jalur talamo-korteks. Jalur ini mengirim sinyal lebih lambat ke arah korteks, tempat sinyal disempurnakan dan dikirimkan kembali ke amigdala. Di korteks inilah kita menyadari apa yang kita lihat. Namun, proses yang terjadi telah mengaktifkan emosi dan tanggapan tertentu.

Dalam proses persepsi, data disusut dan dipadatkan. Citra retina yang semula seperti gambar kamera tentang kenyataan, berubah menjadi peta representatif dari bidang visual.
3.      Proses perseptual otak
Citra yang akhirnya kita persepsi terlihat utuh, bukan karena otak melihat gambar dari apa yang ada “di luar sana,” melainkan karena berbagai wilayah khusus dalam korteks visual menghubungkan sistem-sistem paralel menjadi jejaring yang luas. Otak terbagi menjadi dua belahan: kiri dan kanan. 













Gambar diproses oleh belahan otak kanan, kata-kata oleh belahan otak kiri.Otak kanan bekerja secara menyeluruh dan serentak, otak kiri bekerja per bagian dan berurutan.

1.      Sistem Emosi dan Kognisi
Masukan visual diproses menurut dua sistem pemrosesan: talamo-amigdala dan korteks.
• Di amigdala nilai emosi diberikan pada data yang masuk dan diteruskan ke tubuh untuk mempersiapkan tubuh sebelum akal membuat keputusan sadar untuk bertindak.
• Dengan kata lain, kita sudah bertindak sebelum menyadari tindakan. Tindakan ini tidak didasarkan pada gambar di retina, tetapi berdasarkan perkiraan atas apa yang akan muncul di retina.
• Salah satu kemampuan utama kognisi adalah untuk merasionalisasi apa yang telah diputuskan secara emosional.

2.      Teori Gestalt
Manusia memiliki kecenderungan bawah sadar untuk menggabung-gabungkan informasi yang berbeda menjadi keseluruhan yang teratur dengan demikian, upaya perseptual menjadi lebih cepat dan ringkas.
Dalam cabang psikologi ini ada 6 hukum yang digunakan untuk membagi proses manusia mempersepsikan sesuatu dari penglihatan. Contoh aplikasi hukum psikologi Gestalt pada karya: 
1.      Hukum Kelengkapan
Bentuk atau garis yang hampir lengkap akan dipersepsi dan diingat sebagai bentuk yang lengkap. Contoh:

 Foto: Penulis
       Citra yang akhirnya kita persepsi terlihat utuh, bukan karena otak melihat gambar dari apa yang adadi luar sana,” melainkan karena berbagai wilayah khusus dalam korteks visual menghubungkan sistem-sistem paralel menjadi jejaring yang luas.
  2.      Hukum Simetri
Berbagai unsur yang tertata dalam bentuk simetris cenderung dilihat sebagai satu kelompok dan dilihat sebagai satu kesatuan. Contoh:


 
Foto tersebut terdiri dari 16 buah kue moci, namun orang akan langsung
berpersepsi kalau itu sebuah kesatuan.
 
3.      Hukum Kedekatan
Obyek akan dikelompokkan berdasarkan jarak satu dengan yang lain. 
Contoh:

 Kedekatan jarak antar manusia menyebabkan kita berpersepsi bahwa itu membentuk sebuah kesatuan atau kita mengasosiasikan menjadi sebuah bentuk mobil.
4.      Hukum Kemiripan
Obyek-obyek yang tampak serupa akan dipersepsi sebagai satu kelompok. 
Contoh:

Sumber: http://3.bp.blogspot.com/_EKeRu2RiLJc/S97zxMG--ZI/AAAAAAAAOfk/Bc049xO-xtM/s1600/LAND-ROVER-Goggles.jpg
Kesamaan bentuk kaca mata dan kaca depan mobil mengakibatkan kita menarik kesimpulan bahwa mobil dan sosok manusia merupakan kesatuan.
 
5.      Hukum Kesinambungan
Orang cenderung menutup jarak antar obyek dan melihatnya sebagai sesuatu yang sinambung atau membentuk garis. Contoh:

 Sumber: http://us.123rf.com/400wm/400/400/alfonsodetomas/alfonsodetomas1110/alfonsodetomas111000023/10746197-statues-of-saints-in-the-colonnade-vatican-city-rome.jpg
 
Barisan patung yang berjajar membuat kita bersepsi secara tidak sadar bahwa jajaran patung tersebut adalah sebuah garis.

6.      Hukum Sosok-Latar
Jika dua gambar beririsan, gambar yang lebih kecil kemungkinan besar akan dianggap sebagai sosok, sedangkan yang lebih besar dianggap sebagai latar. Contoh:
 Foto: Penulis
 
Sosok manusia yang lebih kecil dari background mengakibatkan sosok manusia menjadi point if interest dan rak buku sebagai latar belakang.
  1. Penerapan Hukum Teori Gestalt pada Karya Fotografi

Aplikasi hukum-hukum Gestalt bisa memberikan kontribusi yang besar bagi perkembangan fotografi. Aplikasinya bisa masuk ke genre  fotografi apa saja. Ini menyangkut konsep awal yang akan divisualisasikan dengan foto. Langkah awal adalah penetuan konsep atau sering disebut brain storming. Dalam taraf ini ditentukan hukum apa yang sesuai untuk konsep yang sudah kita pilih. Langkah selanjutnya ialah tentang perancanaan teknis yang terdiri dari pemilihan objek dan segala pendukungnya, pemilihan alat, teknis pencahayaan, pemilihan angle, dilanjutkan pemilihan treatman warna dalam photoshop. Semua ini kan menjadi proses yang sangat panjang dan komplek agar antara konsep, penggunaan hukum-hukum Gestalt dan hasil yang dihasilkan bisa menjadi sebuah mata rantai yang tidak putus. Foto yang bagus adalah foto yang sesuai dengan konsep awal.

  1. Penutup
1.      Kesimpulan
Fotografi merupakan media yang selain sebagai disiplin ilmu yang berdiri sendiri juga bisa sebagai media yang bisa digunakan untuk menampilkan secara visual disiplin ilmu yang lain seperti psikologi. Sebaliknya, fotografi pun bisa merangkul disiplin ilmu yang lain agar dia menjadi sebuah karya yang merupakan hasil dari sebuah proses kreatif. Akhir-akhir ini fotografi hanya dipandang sebalah mata, hanya melulu tentang alat yang semakin canggih dan gambar yang bagus, dengan mengawinkannya dengan disiplin ilmu yang lain diharapkan fotografi mampu berkembang dan menghasilkan karya-karya yang unik dan bernilai tinggi.



2.      Saran
Sebagai seorang calon penggiat fotografi sebaiknya kita membuka diri untuk juga mempelajari disiplin ilmu yang lain agar karya kita bisa lebih variatif dan dengan tidak langsung kita ikut andil dalam perkembangan ilmu fotografi dan imbasnya, kita ikut menyumbang kebaikan bagi hidup sesama manusia.


Daftar Pustaka
http://psikologi.or.id/mycontents/uploads/2010/10/gestalt (Diakses pada hari Senin, 20 Februari 2012, pukul 13.02 WIB )
http://id.wikipedia.org/wiki/Gestalt (Diakses pada hari Senin, 20 Februari 2012, pukul 14.15 WIB )
Saputro, Kurniawan Adi. 2009. Mimeografi., Artikel perkuliahan Ilmu Komunikasi 1. Yogyakarta: FSMR ISI Yogyakarta.
Sarwono, Sarlito Wirawan. 1986. Berkenalan dengan Aliran-aliran dan Tokoh-tokoh Psikologi. Jakarta:  PT Bulan Bintang.
Walgito, Bimo. 2006. Pengantar Psikologi Umum. Jakarta: Penerbit Andi.




















 

1 komentar: